My Life is My World
Saturday, December 8, 2012
Thursday, December 6, 2012
fanfiction
The First and The Last Forever
‘Apa
aku harus datang ke acara ini atau tidak?’, batinku. Semakin pusing aku
memikirkannya. Bukankah kau ini bukan seorang kutu buku asli? Ya selama ini aku
dipanggil ‘Si kutu buku’ bukan karna aku rajin membaca buku melainkan aku
selalu dapat menyelesaikan semua tugas yang diberikan oleh seosangnim(guru) dan
aku jarang bergaul dengan muid-murid di sekolahku kecuali ketiga sahabatku.
“Aww..!”,jeritku. Siapa yang
berani-beraninya melemparku dengan batu?
“Ya! Pabo!”,kata
seorang laki-laki yang tengah duduk disampingku sambil membawa gitar. Ekh,
sepertinya ini adalah laki-laki yang dipuji-puji oleh anak satu sekolah ini
deh. Kenapa aku tak pernah tau namanya ya? “Pabo!1”,teriaknya dikupingku.
“Ya! Aku tidak tuli ! aku
mendengarmu.” ,sahutku kesal.”Ada apa?”,tanyaku.
“Menjauhlah dari tempat
dudukku!”,usirnya. Memang kursi ini punyanya? Aku tetap duduk.”Kau tidak
mendengarnya?”,tanya orang itu lagi.
“Aku mendengarmu! Dan kau tau, aku
tidak menemukan nama pemilik kursi
ini
dan itu berarti siapa saja dapat duduk disini.”
“Ya! Kim Hyenim dapatkah kau enyah
dari sini!”,bentaknya. Cakaman,dia menyebut namaku?
“Kau
tau darimana namaku?”,tanyaku tanpa
memperdulikan ucapannya tadi.
“Itu karna...karna kau sering
dibicarakan di kelasku.”
“Oh,baiklah
aku akan pergi. Sebenarnya kau juga di bicarakan dikelasku tapi aku tak pernah
tau namamu. Haha.”,tawaku sambil membereskan barangku.
“Pabo!1”
“Ya!
Dapatkah kau tidak mengataiku dengan sebutan bodoh?”,kesalku.
“Kau itu benar-benar pabo1. Laki-laki terkenal sepertiku kau tak tau
sedangkan seosangnim se killer apapun kau tau namanya. Oke,kenalkan aku Lee
Jonghoon imnida”
“Huh,tak perlu. Aku tak ingin tau.”
“Kau akan datang ke acara
itu?”,tanyanya tanpa memperdulikan kata-kataku.
“Acara apa?”
“Prome night itu. Dasar pabo!”
“Entahlah,aku tak tau.”
“Kau tau kau akan berpasangan dengan
siapa?”
“Pasangan?”,tanyaku heran.
“Dasar pabo! Kau tidak bisa membaca
ya? Lihat isi undangan itu dan baca. Tidak bisa baca, kembali ke playgroup
saja”, ucapnya menyindirku. Ternyata benar ada pasangannya dan pasanganku
bernama Choi Jonghoon. What! Choi Jonghoon?
“Kau sudah tau tentang hal ini?”
“Ya,begitulah.”
“Oh,dear. Ottokae?”
Choi
Jonghoon POV
Lucu sekali ekspresi kagetnya itu,
mungkin itu dapat kutambahkan dalam daftar “Hal-hal yang kusukai dari Kim
Hyenim”.haha
“Oh,dear. Ottokae?2”,tanyanya cemas. Bukankah harusnya dia
senang berpasangan denganku?
“Wae?”
“Bukan urusanmu!”
“Kalau kau tak datang mungkin kita
berdua akan dihukum karna tak mengikuti perintahh perintah dari semua keputusan
yang telah dibuat oleh para seosangnim.”, jelasku panjang lebar. Kuharap dia
akan datang. Entah kenapa aku suka dengan wanita sepertinya.
“Kita lihat nanti. Aku harus segera
masuk jam pelajaran olahraga.”
“Ya,baiklah.”,dia pergi
meninggalkanku. Oh iya, aku juga harus berlatih basket. Sekolahku akan tanding
minggu ini dan aku tak ingin membuat malu sekolah ini. Lumayan dengan ini aku
dapat melihatnya lagi.
Hyenim
POV
Seumur hidupku aku tak pernah suka
dengan olahraga, ini sungguh menyebalkan. Aku duduk di pinggir lapangan,
kuharap aku mendapatkan jawaban yang tepat untuk acara itu. Kulihat orang-orang
yang berlatih basket untuk lomba nanti, seperti yang kufikirkan para yeoja di
kelasku menjerit menyebut nama namja itu. Kupakai headsetku agar tak dapat
mendengar mereka semua berteriak.
Aku merasa ada banyak orang
memanggil namaku, kulepas headsetku dan melihat bola basket melayang dan jatuh
tepat kearah jidatku. Terkena bola basket yang keras itu rasanya...(pingsan)
Choi
Jonghoon POV
Dasar pabo, apa dia memasang volume
penuh hingga tak mendengar -
orang-orang
meneriakinya? Kuputuskan untuk menggendongnya ke UKS, wajahnya begitu amat
manis ketika dilihat dari dekat meski dia memakai kacamata sekalipun.
Kuletakkan badannya di tempat tidur, ku kompres jidatnya yang berwarna biru
karna bola itu dan kuharap dia tak apa-apa. Kusingkirkan rambutnya yang
menutupi matanya yang cantik itu. Kenapa orang-orang tak pernah berkata dia cantik?
Padahal dia begitu amat cantik jika kau perhatikan baik-baik. Lama sekali dia
sadar, sudah sore skarang ini. Apa aku harus membawanya ke dokter? Dia bagaikan
orang mati saja.
Hyenim
POV
Kukerjapkan mataku tuk mencoba
melihat jelas dimana aku sekarang. Oh ternyata di UKS dan jam berapa skarang
ini kenapa terlihat agak gelap? Apa pingsanku kulanjutkan dengan tidur? Ah,aku
lupa dengan kebiasaanku satu ini. Dan...
“Ya!”,teriakku.
“Wae?”,tanyanya. Wajah kami begitu
dekat.
“Apa yang kau lakukan?”
“Aku memanggilmu dari tadi dan kau
tidak merespon.”
“Mian.”
“Ayo kita pulang. Kau bagaikan mayat
jika sudah pingsan ternyata.”
“Jadi kau yang..”
“Ne,
aku yang menggendongmu.”
“Gomawo,
mian membuatmu keberatan.”
“Ne, kau sangat berat kau tau?”
Jonghoon
POV
“Ne,
kau sangat berat kau tau?”,tidak sebenarnya kau tidak berat. Lebih berat
cintaku padamu dibanding saat aku menggendongmu.”Ayo kita pulang!”,kutarik
tangannya. Lorong sekolah hanya ada cahaya lampu dan keadaan begitu sunyi meski
ada siswa kelas tambahan. Entah kenapa aku merasa tangannya memegang erat
sikuku. Kulirik kearahnya,”kau kenapa?”
“Ani,aku..aku..aku
takut dengan hal-hal yang sunyi saja.”,jawabnya ragu namun pasti.
Jadi dia takut sunyi, pantas aku
jarang melihatnya sendiri meski waktu itu aku melihatnya sendirian tapi dia
menggunakan headset untuk menghilangkan kesunyian.
“Baiklah, pegang erat tanganku.”,ya
begini lebih baik, meski jantungku terpompa lebih cepat.
Hyenim
POV
Dia mempererat pegangan kami.
Jantungku berdegub kencang,sangat kencang dan apa dia dapat mendengarnya?
Beruntunglah hanya ada siswa kelas tambahan. Kami pergi kekelasku terlebih
dahulu lalu kekelasnya. Huh, sendiri lagi deh. Kemana manusia-manusia tengik
itu? Kenapa mereka tak menungguku?
“Gomawo Jonghoon’shi.
Aku akan pulang dengan bus. Sekali lagi gomawo.”
“Ne..ani, kau naiklah. Aku akan
mengantarmu, aku harus tanggung jawab.”
“ya! Memang kau sudah apakan aku?”
“Maksudku tentang bila tadi, pabo!”
“Ne,sudahlah aku bisa.”
“Kau takut sunyikan? Lihatlah
jalanan disana!”
“Kau menakutiku Jonghoon’shi.”
“Haha. Cepat naik!”
“Baiklah, aku menyerah.”
“Pegangan!”,katanya. Langsung tancap
gas aja jadi kepeluk kan.
Jonghoon
POV
Dengan terpaksa dia memelukku. Sebenarnya
ini yang ku inginkan dari dulu. Kuharap dia tau setelah ini dan seterusnya
bahwa aku manyukainya.
“Dimana
rumahmu?”,tanyaku sembari memecah keheningan.
“ehm..di
street Jonas”
“Baiklah.”
“Ya!
Bolehkah aku bertanya?”
“Ani.”,jawabku.
“Isshhh...”,
kulihat dirinya yang menggembungkan pipinya dispion. Lucu sekali.
“Baiklah,
apa yang ingin kau tanyakan?”
“Hhmm..
aku lupa ingin bertanya apa. Tidak jadi.”
“Pasti
kau lupa gara-gara melihat wajahku yang tampan ini. Haha.”
Hyenim
POV
“Pasti
kau lupa gara-gara melihat wajahku yang tampan ini. Haha.”,siapa yang lupa
gara-gara melihat wajahnya.
“Cih..aku
tak sudi.”,jawabku. Memang bisa dibilang wajahnya tampan. Akh, apa yang kau
fikirkan Hyenim.
“Haha...akui
saja kalau aku tampan.”,katanya seolah dapat membaca fikiranku.
“Ya!
Kau terlalu pede.”
“Haha,aigo.”,dia
melajukan motornya.
Sampai
juga di rumahku. Kurasa aku harus cepat-cepat mandi sebelum badanku lengket
semua.
“Kamsahamnida Jonghyoon’shi.”,ujarku sambil membungkuk.
“Ne,
oh ya. Bisa kau panggil aku dengan sebutan oppa?”
“Ehm..
akan ku coba. Baiklah.. oppa.”,
kenapa jantungku berdegub kencang saat memanggilnya oppa?
“Nah,
begitu lebih baik. Apakah kita sekarang berteman?”
“Menurutmu?
Aku hanya anak yang dijuluki ‘Si Kutu Buku’. Kau ingin berteman denganku?”
“Tentu
saja. Mungkin kepintaranmu akan menular kepadaku.”
“Hhhss..
terserah kau saja.”
“Oke,
kalau begitu aku pulang.”
“Bye.”,entah
kenapa hatiku sangat tenang saat bersamanya. Akh, stop thinking about him Kim
Hyenim! You must focus to your school. Kulangkahkan kakiku masuk ke kamar
dengan agak gontai karna kecapean. Umma hanya menanyakan apa yang kulakukan
hingga sesore ini dan aku hanya menjawab ada tugas kelompok yang kukerjakan
dirumah sahabat-sahabatku.
***
“Annyeong,
Hyenim’shi.”,sapa salah seorang temanku di kelas.
“Annyeong.”,jawabku.
“Sudah
mengerjakan tugas matematika?”
“Mwo? Matematika?”
“Iya.”
“Oh,
dear. Aku lupa.”
“Baru
kali ini kau lupa Hyenim. Apa kau baik-baik saja?”
“Aku
ketiduran tadi malam. Ottokae?”, panikku.
“Oke,
kalau begitu aku akan bertanya pada siswa kelas lain siapa tau mereka ada
disuruh mengerjakan tugas seperti kita.”, katanya untuk menenangkanku.
“Baiklah,
aku akan mengerjakannya di taman aku butuh suasana.”,kami berpisah dari kelas.
Melakukan pekerjaan masing-masing.
Bagaimana
aku bisa lupa dengan tugas dari seosangnim Kangin. Ottokae? Ayo Hyenim you can
do it. Akh, pabo! Ni soal biasa yang kukerjakan tapi kenapa sush sekali ya.
“Ya!
Kau sedang apa?”,sumber suara yang hampir kukenal duduk disampingku. Yah, di
Choi Jonghoon.
“Aku
sedang mengerjakan PR yang aku lupa kerjakan. Jangan menggangguku.”,
perintahku. Dia diam, menuruti perintahku. “Aargghhh...”,suaraku memecahkan
keheningan.
“Gwechana?”,
tanyanya heran.
“Ottokae?
aku tak mengerti.”, jawabku.
“Sini
biar kubantu.”,katanya sambil mengambil buku yang kupangku. “Mwo? Kau tak tau
caranya?”
“Ani,
otak ku sekarang ini menguap entah kemana.”
“Baiklah,
kemari!”, perintahnya. Dia menjelaskan keapadaku cara mendapatkan jawabannya.
Aku melihat dengan seksama apa yang dijelaskannya.
Jonghoon
POV
Wajah
kami begitu deakt hingga hembusan nafasnya terasa di kupingku. Aigo, jantungku
berdegub lagi.
“Bagaimana?
Arasho?”,
tanyaku mengakhiri penjelasan.
“Ehm..ara..Gomawo.”,
jawabku mengerti.”boleh aku minta tolong lagi?”,tanyanya ragu.
“Ne.”
“Bisa
kau kerjakan semua soal ini? Semuanya?”, tanyanya pasrah.
“Mwo?
Ya! Aku tau aku tampan dan aku bisa mengerjakan matematika dengan mudah. Kau
ingin memamerkan bahwa kau telah diberikan jawaban dari ‘sexy guitar’?”
“Aish,aku
tau itu. Tapi bisakah untuk sekali ini saja?”
“Hhmm.
Baiklah.”,sebenarnya tanpa dia merengek aku akan mengerjakan untuknya.
Normal
POV
Sambil
menunggu Jonghoon menyelesaikan tugasnya, Hyenim selalu melihat cara namja itu
mengerjakannya. Tanpa disengaja Hyenim menatap wajah Jonghoon dan dia baru
menyadari bahwa wajah mereka sangat dekat. Entah sudah berapa lama Hyenim
menatapnya yang jelas sekarang Jonghoon juga sedang menatapnya.
“Wae?”,
tanya Jonghoon.
“Ani.”,jawab
Hyenim dengan wajah memerah. Astaga apa yang sedang ada difikirannya.
“Pasti
kau memandangi wajahku yang tampan ini. Haha.”
“Aigo,
percaya diri sekali kau.”
“Haha,
aku sudah terbiasa dengan hal itu. Tenang saja.”, jawab Jonghoon santai. Namun
difikirannya dia menginginkan hal itu dari gadis ini.
“Sudah
kau selesaikan? Sebentar lagi seosangnim akan masuk kelasku.”
“Ne,
ini.”
“Gomawo
Jong..ekh maksudku gomawo oppa.”
“Ne.
Haha kau mengingat hal itu. Bagus.”
“Aku
ke kelas. Thank you so much.”, sebelum
benar-benar pergi, Hyenim berbalik dan berkata “Kau memang baik oppa.” Dan
teapt saat itu wajah Jonghoon memerah.
àIstirahat
Hyenim
hanya sendiri ke kantin kali ini karna teman-temannya sedang menyalin buku
catatannya sekarang. Dam untuk pertama kalinya dia melepas kacamatanya.
“Hei.”,sapa
seseorang yang pasti Hyenim kenal.
“Hei.”,
balas hyenim dengan senyumannya.
“Boleh
akau duduk di sini?”
“Tentu
saja.”, beruntung ada orang yang menemaninya sekarang.
Jonghoon
POV
“Kemana
para temanmu?”, tanyaku memulai pembicaraan.
“Mereka
sedang menyalin catatanku.”
“Hei,
kau melepas kacamatamu. Hebat sekali.”, saat kusadari dia melepas kacamatanya
dan dia terlihat begitu menarik.
“Oh,
ini dikarnakan aku sedikit pusing memakainya.”
“Mau
kuantar ke dokter?”
“Ani,
aku baik-baik saja. Gomawo.”
“Ehem..”,
suara yang tak ku kenal. Yakh, mereka adalah sahabat-sahabat Hyenim.”Cie, dia
malah berduaan.”, kata salah seorang sahabatnya.
“Ya!
Aku tadi sendirian. Sudah cepat duduk sebelum aku berdiri dan pergi ke kelas.”,
sergah Hyenim cepat.
“Ne,
asrasho. Oh ya bukumu kutaruh di atas mejamu.”
“Ne..”
“Hei,
aku tak mengganggu kalian bukan?”,tanyaku.
“Ani,
oppa.”, kata salah seorang lagi sahabat Hyenim.
”Ya!
Memang dia mengizinkamu memanggilnya oppa?”, kata hyenim dengan nada menyindir
pada sahabatnya itu.
“Oppa,
tak apa bukan?” Huh sebenarnya aku lebih suka Hyenim yang memanggilku oppa,
tapi apa sih yang tidak untuk Hyenim.
“Ne,
tak apa.”, jawabku terpaksa.
“Oke
kalau begitu aku ke kelas ya. Ada yang harus kukerjakan.”, izin Hyenim pada
kami.
Hyenim
POV
“Hei,
apa kau ikut acara prom night itu?”, tanya Jonghoon sebelum aku benar-benar
pergi.
“Entahlah.”
“Ikut
saja Hyenim, kami ingin melihatmu menari.” ,kata salah seorang sahabatku untuk
mewakili keinginan dari mereka.
“Kalian
berfikir begitu? Apakah aku harus menerimanya?”
“Ne,
harus dan wajib!”, serentak mereka mengatakannya.
“Baiklah
aku menyerah. Aku ikut.”, kataku pasrah.”Aku pergi.”
à
Waktu Sekolah Berakhir
“Hei,
ayo!”, kata namja yang menghampiriku dengan motornya.
“hah?”,
tanyaku heran. Apakah harus setiap hari dia mengantarku pulang? Ini membuatku
terganggu, oh tidak bukan kau yang terganggu melainkan hatimu Hyenim. Oh dear,
jangan fikirkan hal itu Hyenim.
“Ya!”’
“Hah?
Apa?”, tanyaku bingung.
“Aish,
yeoja pabo! Cepat naik sebelum hujan benar-benar akan membuatmu basah kuyup.”
“Aigo,
aku bisa naik bus dan aku tidak perlu kehujanan.”Aku uberjalan melaluinya tapi
terhenti ketika tanganku ditarik olehnya.
“Ayo
cepat! Sudah hujan nih!” Memang sudah hujan dari tadi sih.
“Oke.
Aku nyerah.”Sebenarnya dia adalah namja pertama yang memboncengku. Jantungku
selalu berdegub ketika naik ke motornya. Tuhan, tolong aku jangan biarkan hal
ini tambah panjang.
Author
POV
Seminggu
kemudian 20 siswa siswi yang telah terpilih di minta untuk berlatih di Aula
karena 2 minggu lagi prom night akan diadakan. Hari ini guru tari mereka
menyuruh mereka berkumpul di Aula saat pulang sekolah. Dan saat itu Jonghoon
akan menjemput Hyenim di kelasnya. Entah kenapa Hyenim hanya mengiyakannya
saja.
“Kau
sudah siap?”, tanya Jonghoon dari balik pinut kelas Hyenim.
“Ya!
Kau ingin apakan aku?”
“Astaga,
kau polos sekali. Maksudku berdansa.”
“Oh,
arasho.hhe..maklum
aku sedang memikirkan pelajaran. Kan sebentar lagi semesteran.”, kata Hyenim
sambil memberikan senyumannya. Mereka berdua sekarang lebih sering terlihat
berdua, bahkan teman-teman satu kelas Hyenim berfikir bahwa mereka berpacaran.
Jika memang sperti itu Jonghoon tidak keberatan tapi berbeda dengan Hyenim.
àAula
“Baiklah
kalian akan masuk dari pintu depan pukul 20.30 dan jangan ada yang terlambat.
Untuk urusan pakaian kami sudah menyiapkannya tentunya sekolah kita tidak perlu
mengeluarkan uang yang terlalu banyak. Sekarang latihan. Ayo.. ayo!!
Semangat.”, jelas guru tari mereka.
Jantung
Jonghoon dan Hyenim berdetak begitu cepat hingga mereka seperti mendengar detak
jantung satu sama lain.
àAcara
Prom Night
Jonghoon
POV
Entah
gaun apa yang diberikan pada Hyenim, aku jadi penasaran. Ku pinjam mobil appa
untuk menjemputnya, tak mungkin kugunakan motorku yang ada dia tak ingin
bertemu denganku lagi.
Kuketuk
pintu rumahnya, terdengar suara umma Hyenim merecokinya dengan berbagai kalimat
perintah dan kurasa malam ini dia akan terlihat begitu cantik. Kuketuk kembali
pintu rumahnya.
“Ya,
tunggu sebentar. Akh.. appa mu ini pemalas sekali.”, kudengar ummanya mengomel.
“Annyeong,
ahjuma. Lee Jonghoon imnida.”,sapaku.
“Oh
jadi ini yang bernama Lee Jonghoon.”, jawab umma Hyenim dengan hangat.”Sayang
ayo cepat! Pacarmu sudah menunggu.”, haha pacar ya? Hyenim datang dan... ...
dia bagai malaikat. Dia memakai dress biru safir dengan tali yang terikat
dilehernya, menggunakan sepatu yang tingginya3cm berwarna biru dan yang tak
kusangka dia memakai lensa biru safir yang membuat matanya begitu lwbih
bersinar serta rambut yang diikat. Dia terlihat sangat wow!
“Hei,
apa aku jelek?”, kata Hyenim embuyarkan lamunanku.
“Ani,
malah kau terlihat sangat cantik.”
“Haha,sudahlah
cepat sebelum kalian terlambat.”, kata umma Hyenim.”Jaga anakkku baik-baik.”
Ku
bukakan pintu mobil untuk Hyenim. Dia membuatku seolah terhipnotis dengan
kecantikannya.
Saat
berdansa tak pernah kulepaskan pandanganku padanya.
“Gwechana?”,
tanyanya.
“Ani,
aku hanya mengagumi mu karna kau terlihat sangat cantik.”, kata-kataku membuat
wajahnya langsung memerah.
“Haha.
Gomawo oppa.”
“Hyenim
ada yang ingin aku katakan padamu.”, kataku serius.
“Mwo?”
“Sebenarnya...
sudah lama aku menyukaimu dan yah kau tau sendiri aku jarang dekat dengan
wanita selain dirimu. Maukah kau menerimaku menjadi kekasihmu?” Oh Jonghoon
dalam keadaan seperti ini kau menyatakan cintamu padanya. Kau bodoh sekali
Jonghoon.
Hyenim
POV
Apa?
Dia menyatakan cintanya sekarang? Ini terlalu cepat Jonghoon.
“Mwo?
Kau bercanda?”, tanyaku meyakinkan.
“Tidak,
aku tidak bercanda. Maukah kau menerimaku?”, ulangnya.
“Mian
oppa. Aku sekarang fokus pada ujian tahun depan. Yah, meski masih taun depan
tapi itu semua harus dipersiapkan dari sekarang kan.”
“Bukannya
masih bisa pacaran sambil belajar?”
“Aku
ingin fokus oppa. Aku akan berpacaran saat selesai pengumuman ujian saja.
Mungkin setelah itu kau akan mendapatkan jawaban yang tepat dariku. Dan itu
jika kau tak merubah isi hatimu.”, kuberikan senyum tegarku. Aku tau ini bukan
jawaban yang ingin dia dengar, namu ini keputusanku dari awal.
“Aku
akan menunggumu....sampai kapanpun. Dan kuharap kau mau menugguku juga. Aku
berjanji.”
Jonghoon
POV
“Aku
akan menunggumu....sampai kapanpun. Dan kuharap kau mau menugguku juga. Aku
berjanji.”, kataku pasti. Dia hanya menganggukkan kepalanya dan kuharap itu
sebuah janji darinya.
Meskipun
sakit rasanya mendengar penjelasannya itu akan kuterima apapun itu. Ku berikan
senyumanku, agar dia tidak harus merasa bersalah atas jawabannya itu. Aku
berjanji akan selalu mencintainya sampai kapanpun. Dia adalah yang pertama dan
yang terakhir di hatiku dan hanya untukku selamanya.
Subscribe to:
Posts (Atom)
